Belajar dari Teman Tuli,
Mendengarkan tanpa harus mendengar. Bercerita tanpa harus bicara.
Sebenarnya, sore ini hanya jadwal ujian bahasa isyarat di pojok inklusi Kecamatan Selaparang. Penguji yang hadir adalah teman tuli mas Fikri, Putra, Ema dan juga sponsor program mbak Baiq Lia Marsandy dari yayasan Harapan Baru Lombok.
Lepas ujian, pak camat Inklusi Zulkarwin SafaRazi berinisiatif mengajak kami ngobrol sambil ngopi. Pak Camat yang satu ini sangat concern isu isu inklusi. Layanan publik harus berkeadilan katanya, kita pemerintah harus hadir. Semoga semakin banyak pejabat publik seperti beliau.
Awalnya hanya kami ber enam. Diskusi evaluasi program, sekalian saya feasibility study untuk sebuah aplikasi E-Health yang sedang saya kembangkan untuk teman teman disabilitas.
Di tengah ngopi ngopi dan diskusi ringan kami, tiba tiba datang beberapa teman teman tuli ke tempat ngopi, ternyata mas Fikri ulang tahun hari ini.
Teman teman yang datang ini juga bisu dan tuli. Mereka datang dengan membawa hamper dan kue ulang tahun, untuk merayakan ulang tahun Fikri. Suasana berubah mejadi sebuah pesta kecil.
Saya benar benar merasakan kehangatan dan ketulusan. Meski tak banyak bahasa isyarat yang saya kuasai, namun tak menghambat komunikasi kami. Saya lebih banyak merasakan, dan sangat dalam.
Saya bersyukur dan beruntung bisa berada dan diterima di tengah teman teman tuli ini, yang juga bisu. Saya beruntung diberikan kesempatan menyelami kehidupan mereka.
Jauh dari riuh dunia, disinilah kedamaian.
Salam,
Romy Hidayat
Rumah Senja Charity


